Indahnya alam Indonesia berhias ragam Seni dan Budaya. Selamat Datang di Jawa Barat, mari nikmati Alam, Seni dan Budaya dalam AMAZING WEST JAVA!
Showing posts with label Curat Coret. Show all posts
Showing posts with label Curat Coret. Show all posts

7/22/2015

Hilang STNK?? Ini Nih Cara Ngurus Plus Tipsnya


Alhamdulillah hari raya telah tiba berarti saatnya untuk mudik ke kampung halaman, bertemu sanak saudara untuk bersilaturahim sekaligus liburan melepas penat dari aktivitas keseharian kita. Sebelum berangkat baiknya periksa kesiapan fisik kita dan juga kendaraannya. cek lampu kendaraan, rem, ban dan juga permesinan lainnya barangkali ada yang sudah mulai habis masa pakainya. Bila dijalan tiba – tiba kendaraan kita mogok, uh… malesin kan…
Yang ngga kalah pentingnya juga cek surat - surat kelengkapan berkendaranya juga, seperti SIM dan STNK baik ketika kita mau berangkat ataupun pas kita mau kembali dari kampung halaman. Hah… STNK nya ga ada?? Ayo periksa lagi yang bener?? Yakin hilang?? Jangan sampe deh kendaraan kita ditilang karena ngga ada STNK nya, bisa – bisa disangka kendaraan curian! Kalo beneran hilang jangan panik ayo urusin aja ke kantor polisi dan samsat, ngga ribet koq. Nih saya mau share pengalaman saya ngurusin STNK duplikat sekalian tips  biar cepet ngurusinnya.

7/17/2015

Empat Hal Lima Waktu Sebelum Ajal Menjemput



Satu pagi saat matahari mulai meninggi, alunan takbir, tahmid dan tahlil masih menggema dari setiap penjuru kota. Begitu juga dari dalam hatiku walau aku tak meneriakannya. Orang orang berduyun duyun memenuhi lapangan di desaku. Bagi kebanyakan orang ini adalah hari kemenangan yang disambut dengan kegembiraan. Setelah satu bulan digodok dikawah Chandra dimuka yang bernama bulan Ramadhan, akhirnya kita kembali kepada kemenangan yakni kembali suci, bersih seperti bayi yang baru lahir fitrahnya bersih tiada bernoda dan tiada berdosa.

5/10/2015

Kebermanfaatan adalah Kebahagiaan?

Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya. ungkapan tersebut sangat akrab ditelingaku. sebagian orang bahkan menjadikannya sebagai motto hidup mereka. lalu bagaimana denganku? aku hanya menjadikannya salah satu dari berjuta kata-kata mutiara dalam catatanku. aku tak faham betul tentang apa maksud dari ungkapan ini. begitu spesialkah hingga orang orang menjadikan kalimat itu sebagai prinsip hidupnya? awalnya ku pikir ungkapan ini sama indahnya dengan beribu ungkapan cantik lainnya. namun sebuah peristiwa telah merubah pandangan itu.

Berawal pada februari 2013, Sahabatku Varida Isnaini baru saja menyelesaikan sidang kolokium. Dengan muka lelah setelah sidang dia memintaku untuk membantu proses pembuatan film dokumenter, bidang yang dipilih sebagai Tugas Akhir untuk menyelesaikan studi strata satunya.
"In, Bantuin Napa??" katanya berharap.
Aku tertawa lalu bilang  "siap Ndo.. apa yang bisa di bantu pasti ku Bantu. sok atuh aku bantuin apa?"
Varida lalu memintaku untuk menjadi Kameraman di filmnya dan dia sendiri menjadi sutradara.

Setelah berbagai persiapan selesai, tibalah kita di hari proses pengambilan gambar. kami lalu menjumpai seorang lelaki tua bernama Ricky Baraja salah seorang narasumber yang merupakan pelatih seni liong dan barongsai. Kita lalu berbincang sambil proses pengambilan gambar berlangsung. saat perbincangan, terungkap pak Ricky (sapaan akrabnya) prihatin dengan kondisi anak-anak yang tinggal disekitar lingkungannya. banyak anak yang putus sekolah,  pengangguran dan mengalami kesulitan ekonomi. pak Ricky lantas mengumpulkan anak – anak itu, dan dilatihlah mereka bermain liong dan barongsai hingga akhirnya mereka bisa pentas.

keesokan harinya kami mendatangi anak - anak binaan pak Ricky. kami sungguh terkejut karena ternyata mereka semua adalah anak - anak pribumi yang berbeda etnis dan agama dengan pak Ricky. kami pun mulai berbincang dengan mereka , salah satunya Boni Ahdian seorang pemain barongsai. Banyak pertanyaan yang kami ajukan salah satunya apa saja tantangan dalam bermain liong dan barongsai yang sontak dijawab Boni tantangannya adalah menghadapi berbagai resiko seperti jatuh, terkilir dan lainnya. Boni juga mengeluhkan mereka sering menjadi korban diskriminasi dari orang - orang disekitarnya. beberapa teman Boni bahkan dilarang oleh orang tuanya yang takut kegiatan ini akan merubah keyakinan anak-anak mereka. meski begitu Boni dan para pemin barongsai lainnya ini meyakini bahwa mereka hanya berkesian, tidak pernah mereka mengikuti rangkain kegiatan ibadah yang bukan menjadi keyakinan mereka. Boni juga mengatakan tidak ada aturan yang mengharuskan mereka untuk mengikuti sesuatu yang bukan menjadi keyakinan mereka. Boni justru mengapresiasi pak Ricky yang dalam membimbing mereka selalu mengingatkan anak-anak untuk beribadah sesuai keyakinan masing masing. ketika waktu ibadah tiba pak Ricky malah sering mengingatkan Boni untuk beribadah terlebih dahulu.

selang beberapa hari lantas kembali bertemu pak Ricky dan berbincang mengenai hal ini. pak Ricky membenarkan tentang berbagai rintangan yang dihadapi. bahkan pak Ricky mengatakan tantangan ini bukan hanya datang dari etnis pribumi tapi juga dari etnisnya. namun dengan keteguhan hati yang kuat ingin merubah kehidupan anak anak ini menjadi lebih baik. semua tantangan itu dapat diatasi. ia dapat meyakinkan baik kepada etnisnya maupun etnis pribumi bahwa kegiatan ini murni kegiatan berkesenian.

pak Ricky lantas membawa kami ka sebuah gerobak mie bakso tak jauh dari kediamannya. dengan bangga ia memperkenalkan kami kepada zaenal sang penjual bakso yang tak lain adalah salah satu muridnya yang masih aktif bermain barongsai. Pak Ricky menuturkan dulu zaenal anak putus sekolah, tetapi melalui uang hasil pentas zaenal akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya hingga selesai. Kini setelah dewasa, zaenal bisa punya usaha sendiri dan menjadi tulang punggung keluarga.

begitupun anak anak pemain barongsai lain yang kami temui mereka mengaku sangat bahagia. kini mereka punya kegiatan yang positif, seni barongsai dapat menyehatkan badan mereka dan uang dari hasil pementasan dapat mereka pergunakan untuk menabung, membantu orang tua dan membuka
usaha. kami juga sempat terkejut saat berbincang dengan seorang perempuan bernama Ghya.
"Teteh, aku baru sweet seventeen" ujarnya diawal perbincangan.
"ghya, manfaat apa sih dari main barongsai?" kami bertanya.
"Banyak teh" Ghya langsung menjawab.
"ya dapet uang dari pentas, dibeliin susu buat anak. ya kayak gitu" lanjutnya tersenyum.

Kami dapat melihat jelas raut muka bahagia Ghya dengan anak satu tahun di pelukannya, hal yang sama terjadi dengan anak anak yang lainnya. Mereka bahagia dengan kondisi mereka saat ini. Kebahagiaan juga diungkapkan pak Ricky di akhir wawancara. pak Ricky mengatakan bahwa keberhasilan anak-anak didiknya merupakan sebuah kebanggan dan ia bahagia malakukannya.

Dari produksi film dokumenter ini saya mendapatkan sebuah pelajaran luar biasa tentang bahagia. Ketika seseorang mendapat manfaat dari orang lain ia akan merasa bahagia. Dan ketika seseorang memberikan manfaat bagi orang lain ia juga akan bahagia. "kebermanfaatan" menjadi kata kunci dalam pelajaran bahagiaku.

Ketika keberadaanku memberikan manfaat bagi banyak orang, itulah berbagi kebahagiaan.
Ketika Aku selalu ada untuk keluargaku, itulah saat paling Bahagia bersama keluarga
Ketika aku ada bersama sahabat - sahabatku dalam suka maupun duka, itulah saat paling Bahagia bersama sahabat.
Kebermanfaatan itu lah inspirasi kebahagiaan, karena ketika mereka bahagia kitapun bahagia.


Kini aku tau makna dari ungkapan “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya”. dan kini aku tau mengapa ada banyak orang yang menjadikannya prinsip hidup. Karena aku kini memakainya. Karena aku ingin kita semua bahagia.

Bahagia bersama Keluarga

Bahagia bersama Sahabat


1/30/2014

Wanita itu......... Aku Patah Hati.........

                        


                             Wanita, mencintai dan dicintai,.. saat ini  makhluk dan kedua kata itu harus ku buang dulu jauh-jauh. Untuk orang seperti ku, nampaknya tidak bisa semua berjalan beriringan. Baru saja hati ini bahagia dan mulai terbuka oleh seorang wanita dengan harapan mencintai dan dicintai, tetapi selalu didalam situasi dan kondisi yang tidak tepat. Apalagi berbagai masalah yang menimpa membuat fikiran ini berlarian kesana kemari. Semua rasa, remuk redam menjadi satu dan berujung kepada kegundahan hati dan ketidak jernihan berfikir. Kepala ini berat dengan berbagai angan dan khayalan yang mungkin jauh dari kenyataan.

                         Mengerjakan sesuatu haruslah terukur, terencana dan fokus sehingga terselesaikan satu demi satu. Manajemen hidup yang buruk ini harus segera disudahi. Belajar fokus dengan apa yang sedang dihadapi, membuat perencanaan yang bagus dan terukur serta kuat dalam pelaksanaannya. Begitupun menghadapi wanita, mencintai dan dicintai. Kalau tida terukur yah hanya menjadi khayalan yang jauh dari harapan. Kalau tidak fokus, yah keburu digaet orang,.. hahahaaa.............

                           Katanya wanita suka ini,.. katanya wanita suka itu,.... katanya wanita ingin begini,.. katanya wanita ingin begitu..... katanya... katanya... dan katanya..... tetapi setelah dihadapi semua nampak berbeda. Sebagiannya ada sebagiannya tidak ada, sebagiannya tidak sesulit yang dipikirkan, sebagiannya lagi malah menjadi rumit. AAaaaaahhhh............. lagi - lagi, aku harus bisa mempelajari wanita lebih dalam lagi, juga harus mempelajari bagaimana aku bersikap kepada wanita., mencintai dan dicintai. Mungkin sekarang bukan saatnya, tetapi semoga semuanya tetap sama,.. kamu hanya untukku,..

                              Saur mang cepot mah, "sanajan loba gantina moal cara jeung manehna, oh sayangku....... demikianlah pembacaan puisi,..." (Cepot Rarabi) hehheeeee............ heuheuy jeung deudeuh deui wae,.... Heuheuy Deuh.........

HUHEUY DEUH..................

                 
                         

                Seperti biasa semuanya terulang kembali. Aku tidak tau apakah arti ini semua. Yang aku tau adalah aku dalam keadaan rugi. Hari ini sama seperti kemarin adalah sebuah kerugian, kejadian yang berulang ini jelas adalah sebuah kerugian bagiku. Jawaban yang pasti adalah aku tidak pandai belajar, belajar dari situasi, belajar dari kondisi yang nyaris sama. Memang bukan lubang yang sama, tetapi lubang yang lainnya dengan cara yang hampir sama. Ini memang ujian dari Tuhan, aku tidak bisa menyalahkan lubang - lubang itu, tetapi kecerobohan yang aku lakukan itulah yang menyebabkan aku kembali terjerumus masuk lubang.

                      Lagi - lagi mestinya ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupanku dimasa yang akan datang. Aku tidak boleh terus - menerus masuk ke dalam lubang yang salah, jalan yang keliru. Meski banyak pelajaran yang aku dapat, aku harus bisa belajar tetapi tidak dengan jatuh ke dalam lubang lagi. Kehidupan memang mungkin begitu. Kadang kalanya kita bahagia, kadang kalanya kita berduka. Semuanya harus terus dihadapi. Tetapi saat kita bisa memilih jalan yang baik kenapa tidak?!

                     Seorang sahabat mengatakan bahwa apa yang menimpa kita memang sudah diatur sesuai kehendak-Nya. Dari denyut nadi, helaan nafas, kedipan mata gerak tingkah laku kita sudah ada yang mengatur. Layaknya wayang, gerak tingkah lakunya sesuai keinginan dalang. Kalau demikian adanya, lantas kenapa kita dikasih otak untuk berfikir, menentukan berbagai pilihan hidup. Dan kenapa juga kita diharuskan berusaha, toh diampun mungkin sudah keinginan "dalangnya". Hmmm..... Fikiran yang salah, berusaha semaksimalnya dan apapun yang terjadi itu menjadi suratan. Yahhh.........................  kita simak saja kelanjutan perjalanan hidup ini,.......

Hidup itu tersenyum,...... tersenyum tanda bahagia, tersenyum tanda ketegaran..... karena katanya hidup ini hanya heuheuy jeung deudeuh...... heuheuy deuh.......

11/30/2013

Melihat Sebuah Tantangan Didepan

             Sebuah batasan yang berada di level tinggi. Mungkin itulah kata – kata yang tepat dalam menggambarkan film berjudul “Pahare” karya sutradara Juwita Sari dalam perjalanan  program studi Televisi dan Film STSI Bandung. Alasannya jelas, dari sebelas film dokumenter Ujian Akhir angkatan pertama program studi Televisi dan Film yang telah usai dihelat, film “Pahare” masuk nominator Festival Film Indonesia 2013 kategori film dokumenter pendek. Sebuah capaian luar biasa ditengah berbagai keterbatasan.
             Tidak bermaksud mengecilkan film yang lain karena setiap film punya target audience tersendiri. Seperti halnya film ”Teratai Mekar di Batujaya” dan “Nagara Siang Padang” yang lebih kepada film dokumenter Sains. Kedua film tersebut mengangkat Benda Cagar Budaya sebagai objek utamanya ini jelas tidak masuk dalam kriteria FFI yang lebih kepada mengangkat harkat dan martabat manusia. Tetapi sudah selayaknya lah kita menjadikan film “Pahare” ini sebagai pijakan awal, sebuah contoh batasan minimal untuk mahasiswa selanjutnya dalam berkarya. Ini tentunya untuk memicu peningkatkan kualitas para sineas khususnya lulusan dari Prodi TV & Film STSI Bandung. 
             Pekerjaan Rumah yang besar bagi mahasiswa dan tentunya staff pengajar prodi TV & Film untuk terus berupaya dengan berbagai cara meningkatkan kualitas karya yang dilahirkan. Tidak untuk meniru film “Pahare” tetapi melihat lebih dalam berbagai hal yang ditawarkan serta menjadi identitas yang khas dari film ini.
             Tantangan lebih besar adalah ketika film “Pahare” masuk nominasi FFI yang mana merupakan level tertinggi Festival Film di negeri ini. Eksistensi diajang tersebut apalagi bisa memenanginya bisa menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pendidikan di program studi TV dan Film STSI Bandung. Bila dibandingkan dengan angkatan 2009 yang penuh keterbatasan, rasanya tidak sulit bagi mahasiswa angkatan selanjutnya untuk melakukan itu apalagi Prodi TV & Film saat ini terus berbenah dari mulai kurikulum hingga peralatan yang terus dilengkapi. Jangan menjadi beban berat, malah sebaliknya harus menjadi motivasi siapa tau besok lusa film hasil karya mahasiswa Prodi TV & Film bahkan bisa masuk di Festival Film Internasional, mengembalikan Bandung sebagai tonggak perfilman nasional.

LULUS DIWAKTU YANG TEPAT

         Lulus tepat waktu dan bermutu itulah kalimat yang terlontar dari dosen waliku Bapak Arthur S. Nalan untuk memacu kami. Sebuah kalimat dengan target capaian yang luar biasa  yakni selain menyelesaikan perkuliahan tepat waktu juga harus menyerap ilmu sebaik – baiknya agar menjadi manusia yang unggul dibidang yang kami tekuni. Program Studi Televisi dan Film itu yang saya pilih bersama kedua temanku. Minat kami memang sama, maklum kami memiliki latar pendidikan dibidang itu sebelumnya. 

         Diawal masa perkuliahan kalimat “Lulus tepat waktu dan bermutu” selalu mengiringi kami. Hasilnya nilai yang baguspun dapat kami genggam. Nilai yang merupakan buah kerja keras dari kedisiplinan, ketekunan dan kualitas yang dapat kami buktikan. Bila kita menarik kata tepat waktu, jelas diperlukan kedisiplinan yang tinggi. Apalagi kami harus membagi kuliah dengan berpeluh keringat mencari biaya untuk menyambung hidup juga tentu untuk memenuhi administrasi perkuliahan agar tetap berjalan. Dengan seabreg tugas dari kampus juga memenuhi kewajiban menyelesaikan pekerjaan di kantor, selain disiplin tentunya kami harus tekun. Terbengkalainya suatu pekerjaan maka akan mempengaruhi pekerjaan lainnya.

         Management yang baik menjadi kunci suksesnya. Management bukan melulu tentang mangatur uang dan waktu, tetapi bahkan harus mengatur sikap, pemikiran, ide – ide, tenaga dan lainnya. Management harus melingkupi semua hal, bahkan mengeluarkan ide gilapun ada waktunya. Itulah mendisiplinkan diri jika kita ingin sukses secara waktu. Itulah ternyata poin yang tidak saya penuhi.

         Kedua temanku akhirnya sukses menyelesaikan perkuliahan dengan hasil maksimal. Slogan “Lulus tepat waktu dan bermutu” sukses mereka jalankan. Ini dibuktikan saat wisuda mereka meraih hasil memuaskan dan masuk dalam jajaran lulusan terbaik. Bahkan karya film yang merupakan tugas akhir salah satu diantaranya berhasil masuk nominator festival film terkemuka di negeri ini.

          Lalu gagalkah saya? Untuk lulus tepat waktu saya gagal. Saya gagal memanage waktu, kemampuan, finansial dan sikap. Itu salah satu ujian saya untuk mendapatkan “mutu” tadi. Manusia yang berkualitas bukan hanya memiliki kemampuan dalam suatu bidang keahlian saja. Bukan hanya skill yang harus dimiliki tetapi juga soft skill. Orang tua ku selalu bilang “Jang naon pinter ari keur minteran batur mah”. Apalah artinya seseorang yang mahir disuatu bidang keahlian namun malah dipakai untuk membodohi orang lain. Saya harus belajar dari kegagalan, mengintrospeksi diri dan bangkit demi keberhasilan. Saya percaya dibalik ini semua ada rencana lain dari Tuhan. Mungkin saya harus lebih lama tinggal disini karena ada ilmu yang belum didapat atau bahkan mungkin karena akan dipertemukan dengan jodoh saya? Hahaha. Mungkin Tuhan tidak menghendaki saya lulus tepat waktu tetapi lulus diwaktu yang tepat!